Orang sedang beroolahraga lari, hal tersebut adalah good habit

Habit: Bagaimana Bisa Terbentuk dan Menciptakan yang Baik


Ketika berbicara mengenai kebiasaan atau habit, kita tahu bahwa kebiasaan ada yang baik maupun buruk. Kebiasaan yang buruk akan memengaruhi hidup kamu secara negatif. Sedangkan kebiasaan yang baik akan sebaliknya.

Kebiasaan sangat menentukan hidup kamu. Sehat atau sakit, bahagia atau sedih, cukup beristirahat atau kelelahan, semuanya ditentukan oleh kebiasaan. Contohnya, kebiasaan merokok jelas akan membuatmu ‘sakit’, sedangkan tidur 8 jam sehari akan membuatmu jauh lebih sehat.

Jadi, kebiasaan itu penting dalam hidup. Untuk menjadi lebih baik dan mencapai sebuah goals, kamu perlu untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan membentuk yang positif. Nah, agar lebih mudah untuk membentuk kebiasaan baik (good habit) baru, sebaiknya kamu tahu dulu nih, bagaimana sih sebuah kebiasaan itu bisa terbentuk?

Bagaimana Habit dapat Terbentuk?

membentuk habit
unsplash/@jmuniz

Charles Duhigg, penulis buku “The Power of Habit”, mengatakan bahwa sebuah kebiasaan dapat bertahan lama dikarenakan sebuah pola psikologis yang dinamakan habit loop. Pola ini terdiri dari 4 tahapan bagaimana sebuah kebiasaan dapat terbentuk. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Baca Juga: Sulit Menjadi Disiplin? Yuk, Ikuti 4 Tips Berikut Ini!

Cue atau Trigger

Seperti namanya, cue atau trigger adalah kondisi di mana pikiranmu menganalisa lingkungan untuk mencari sebuah pemicu yang memicu otak untuk memulai sebuah perilaku. Cue ini biasanya berupa reward. Misalnya, kamu melakukan sebuah perilaku karena uang, kesehatan, atau apapun itu. Cue ini akan memicu otak kamu untuk memulai sebuah perilaku.

Craving

Craving sederhananya adalah sebuah dorongan yang bersifat motivasional yang memicu setiap perilaku. Hal ini memberikanmu sebuah alasan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, kamu berolahraga karena memberikanmu kesehatan. Kamu ke pantai karena memberikan ketenangan.

Response

Selanjutnya adalah respons dari craving, yaitu kebiasaan itu sendiri. Tanggapan atau respons ini tergantung pada motivasi dan kesulitan sebuah kebiasaan untuk dilakukan. Jika hal tersebut membutuhkan usaha yang lebih dari apa yang kamu sedia lakukan, maka kemungkinan besar kamu tidak akan melakukannya.

Reward

Pada dasarnya, tujuan utama dari kebiasaan adalah untuk mendapatkan reward. Trigger-nya karena kamu menyadari adanya reward, craving-nya menginginkan sebuah reward, dan response-nya memungkinkanmu untuk mendapatkan sebuah reward juga.

Nah, sekarang kamu sudah tahu nih bagaimana sebuah habit dapat terbentuk. Saat mencoba untuk menciptakan kebiasaan baru, sering kali cara yang kamu lakuan adalah dengan mengganti kebiasaan lama.

Kebiasaan buruk diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Kebiasaan bergadang diganti dengan tidur 8 jam sehari, kurang lebih seperti itu. Beberapa cara berikut ini dapat membantumu untuk mencapai ke sana. Kira-kira apa saja, ya?

Baca Juga: 5 Cara Menjadi Pribadi Produktif, Yuk Berubah!

Mengeliminasi Trigger

mengeliminasi trigger
unsplash/@kellysikkema

Salah satu tahapan awal terbentuknya sebuah habit atau kebiasaan adalah kita menemukan trigger atau pemicunya. Dengan mengeliminasi maupun menghindari trigger atau pemicu dari bad habit (kebiasaan buruk), maka kita juga bisa mencegah melakukan kebiasaan tersebut. Coba identifikasi orang, tempat, dan aktivitas yang dapat menyebabkan kamu memikirkan, kemudian melakukan bad habit.

Robert Reid, Deputy Division Head dari Prevention and Rehabilitation di University of Ottawa Heart Institute, sempat berkata mengenai tiga pemicu umum dari merokok. Pemicu tersebut adalah berada di sekitar perokok lain, minum alkohol, dan stres atau perasaan sedih. Jadi, jika kamu ingin menghentikan kebiasaan merokok, kamu harus menghindari ketiga pemicu tersebut, ya!

Mengurangi Craving

Craving adalah dorongan motivasional dari sebuah habit. Kamu melakukan sesuatu karena kamu mempunyai motivasi berupa reward. Misal, motivasi kamu melakukan sesuatu adalah untuk mengurangi stres.

Kamu selalu bisa memilih cara untuk mendapatkan itu. Alih-alih menggunakan cara yang buruk atau bad habit, kamu bisa memilih menggunakan kebiasaan baik. Contoh, pasti kamu sering mendengar alasan kenapa seseorang merokok, yaitu untuk menghilangkan stres, kan? Nah, coba untuk ganti dengan sesuatu yang lebih baik seperti mengunyah permen karet. Menurut sebuah studi, kegiatan ini bisa mengurangi stres.

Membuat Habit Buruk Tidak Aksesibel

Kamu sudah tahu bahwa yang membuat kita melakukan perilaku tertentu itu dipengaruhi oleh akses juga. Semakin sulit perilaku tersebut untuk dilakukan, maka peluang kamu untuk melakukannya juga akan mengecil. Oleh karenanya, dengan membuat bad habit tidak aksesibel, akan sangat membantu kamu terhindar darinya.

Kamu punya kebiasaan bergadang karena mengerjakan tugas? Kamu bisa mencoba mengerjakan tugas tersebut lebih awal. Berolahraga juga bisa membantu kamu untuk istirahat lebih cepat.

Perlakukan Goals atau Habit sebagai Kewajiban, bukan Keinginan

Tory Higgins, profesor psikologi dan bisnis di Columbia University, mengelompokkan goals menjadi dua kategoripromotional goals dan preventional goals. Tujuan atau goals yang pertama fokus kepada apa yang kamu dapatkan jika mencapai sesuatu. Sedangkan yang kedua, fokus pada kerugian yang akan kamu alami jika gagal mencapainya.

Kamu bisa melihat goals dari kedua cara pandang promotional atau preventional. Menurut direktur dari Columbia’s Motivation Science Center tersebut, prevention lebih efektif dalam hal ini. Contohnya, “Aku akan terkena kanker paru-paru jika tidak berhenti merokok” akan jauh lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibanding dengan, “Aku bisa menabung uang, jika berhenti merokok”.

Baca Juga: Wujudkan Impianmu dengan Empat Kebiasaan

Masukkan Habit Baik dalam To-do List

to do list
unsplash/@kellysikkema

Menurut sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2009, rata-rata waktu yang diperlukan untuk membangun sebuah kebiasaan adalah sekitar 66 hari sebelum akhirnya perubahan perilaku tersebut menjadi otomatis – kamu tidak ‘sadar’ kamu melakukannya. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kamu harus mengulangi perilaku agar bisa menjadi kebiasaan nantinya. Oleh karena itu, to-do list akan membantu.

Mengapa kemudian to-do list dapat membantu? Sederhananya, otak kita akan merilis dopamin ketika kita mencapai kesuksesan kecil. Dopamin akan membuat kita ingin mengulangi perilaku yang menghasilkan kesuksesan kecil tersebut.

Dengan to-do list, kamu bisa membuat daftar hal atau tugas yang harus kamu lakukan. Ketika kamu menyelesaikannya, kamu bisa mencentangnya. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan dopamin yang akan membuatmu mengulangi tugas tersebut.

Contohnya, kamu memasukkan olahraga selama 15 menit sehari dalam to-do list. Setelah melakukannya, kamu bisa mencentangnya, kemudian kamu bisa mendapatkan dopamin dari sana karena telah mencapai kesuksesan kecil. Dopamin akan membuatmu untuk berolahraga lagi. Jadi, pengulangan yang dibutuhkan untuk menciptakaan kebiasaan baik, dapat terwujud sehinggga kamu benar-benar bisa menciptakan kebiasaan yang lebih baik tersebut.

Baca Juga: To-do List: Membuat Daftar Kegiatan untuk Manajemen Waktu

Gimana nih sekarang? Kamu sudah lebih tahu kan tentang kebiasaan atau habit? Ternyata ada empat tahapan bagaimana sebuah kebiasaan terbentuk. Dengan mengetahui atau memahaminya, kamu akan lebih mudah untuk menciptakan kebiasaan baik dan menghentikan yang buruk.

Oh, iya! Ngomong-ngomong soal to-do list, jangan lupa bikinnya pakai aplikasi Docheck, ya! Sekarang, DoCheck sudah tersedia untuk iOS, loh! Tunggu apa lagi? Yuk, download aplikasi DoCheck di App Store dan Google Play Store, sekarang. Gratis!

Itu dia tentang kebiasaan atau habit dari DoCheck! Kalau kamu punya resolusi untuk menghentikan sebuah kebiasaan buruk di tahun ini, kamu bisa coba untuk menerapkan cara-cara tadi, ya!


Scroll to Top