cover budaya

4 Budaya Kerja Perusahaan Indonesia, No. 3 Asik Banget!


Setiap perusahaan di dunia, pasti memiliki budaya kerja masing-masing. Hal ini perlu kamu ketahui karena ini akan mempengaruhi caramu bekerja di perusahaan tersebut. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan budaya kerja? Dikutip dari Gramedia, Mangkunegara (2005) menyatakan bahwa budaya kerja adalah “sistem keyakinan, nilai, dan norma yang dikembangkan dalam suatu organisasi yang dapat dijadikan landasan tingkah laku anggota untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal maupun integrasi internal.” Lantas, ada apa saja budaya kerja di Indonesia?

Secara umum ada empat kultur kerja yang dipakai oleh perusahaan Indonesia yaitu hierarki, adhocracy, clan, dan market. Keempat budaya ini sangat berbeda satu sama lain, loh! Ingin tahu perbedaannya? Yuk, simak penjelasan MinCheck di bawah ini!

1. Budaya Kerja Hierarki

Dalam budaya kerja hierarki, atasan pemegang kontrol utama
Dalam budaya kerja hierarki, atasan pemegang kontrol utama (Foto oleh Andrea Piacquadio/ Pexels)

Menurut KBBI, arti kata hierarki adalah organisasi dengan tingkat wewenang dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Jadi, jalannya suatu perusahaan tergantung pada atasan. Karena mereka percaya bahwa para atasan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih daripada lainnya. Oleh karena itu, biasanya organisasi yang menerapkan budaya hierarki ini bersifat formal. Contohnya adalah lembaga pemerintahan.

Kelebihan dari kultur kerja hierarki menurut Jobstreet adalah adanya stabilitas kontrol proses kerja dan kepastian. Apa maksudnya? Jadi, karena wewenang hanya datang dari satu orang, maka kamu tidak akan bingung untuk mengikuti perintah dari siapa. Namun, kelemahan dari sistem hierarki ini adalah karyawan tidak bisa berekspresi dengan bebas. Karena keputusan hanya datang dari atasan.

2. Kultur Adhocracy

Kultur kerja adhocracy membuat semua orang menjadi inovatif dan kreatif
Kultur kerja adhocracy membuat semua orang menjadi inovatif dan kreatif (Foto oleh Canva Studio/ Pexels)

Salah satu budaya kerja yang banyak diterapkan di perusahaan modern saat ini adalah adhocarcy. Kok bisa? Dilansir dari Gramedia perusahaan yang menggunakan adhocracy akan mengedepankan inovasi dan kolaborasi antara atasan dan pegawai. Misalnya adalah kamu sebagai staf dapat mengemukakan ide untuk perkembangan perusahaan. Oleh sebab itu, kondisi ini menimbulkan nuansa yang positif dan meningkatkan kreativitas seluruh pegawai. Berbeda sekali dengan budaya kerja hierarki, ya!

Meskipun demikian, budaya kerja adhocracy memiliki kekurangan juga. Dikutip dari Glints, kelemahan kultur kerja ini adalah keputusan yang muncul bisa jadi kurang matang karena orang yang memberi keputusan bisa dari yang kurang berpengalaman. Kemudian, ritme kerja yang cepat berakibat pada peluang untuk burnout atau stres menjadi cukup tinggi.

3. Budaya Kerja Clan

Budaya kerja clan mementingkan kolaborasi antar pimpinan dan staf
Budaya kerja clan mementingkan kolaborasi antar pimpinan dan staf (Foto oleh Fauxels/ Pexels)

Sama halnya dengan adhocracy, menurut Smart Presence budaya kerja clan atau kekerabatan juga mengedepankan kerja sama tim antara pemimpin dan pegawai. Atasan akan berperan sebagai mentor dan staf pun ikut dilibatkan dalam memutuskan kebijakan perusahaan. Dengan situasi seperti ini, hubungan seluruh staf dan pimpinan pun menjadi erat seperti keluarga. Biasanya perusahaan yang menerapkan kultur kerja ini memiliki anggota tidak lebih dari 50 orang.

Bagaimana dengan kelebihan lainnya? Dilansir dari Glints, jika kamu bekerja di tempat dengan gaya kerja clan, kamu akan menemukan bahwa komunikasi internalnya solid, produktivitas kerja tinggi, dan tentunya terbuka dengan hal baru. Sedangkan kekurangannya adalah batasan yang kurang jelas, terlalu fokus pada tim, memicu ketidakdisiplinan karena kebebasan yang diberikan, dan terlalu fokus pada internal. Padahal untuk memajukan suatu usaha, perusahaan juga harus memperhatikan faktor luar atau eksternal.

4. Kultur Kerja Market

Kultur kerja market mementingkan profit setinggi-tingginya
Kultur kerja market mementingkan profit setinggi-tingginya (Foto oleh Lukas/ Pexels)

Berbeda dengan budaya kerja sebelumnya, kultur market lebih fokus pada hasil akhir atau profit yang tinggi. Jobstreet menyatakan bahwa menjadi terbaik di perusahaan yang menerapkan gaya kerja market sangat penting. Jadi, kamu akan bersaing ketat dengan orang-orang agar mencapai posisi teratas dalam penjualan. Oleh karena itu, di sini karyawan yang berprestasi akan sangat dihargai dan mendapat pengakuan yang layak oleh perusahaan. Selain itu, strategi bisnis, langkah-langkah, dan prosedur kerja bergantung pada tuntutan pasar. Jadi, sangat dinamis sekali ya!

Dikutip dari Glints, keuntungan bekerja di perusahaan dengan market culture adalah kamu akan mendapat uang lebih banyak jika kamu berhasil melebihi target penjualan, menjadi selangkah lebih maju karena peka terhadap kondisi pasar, serta penuh motivasi dan ambisi untuk menjadi yang terbaik. Sebaliknya kekurangannya adalah membutuhkan modal yang besar untuk selalu update dengan kondisi pasar, peluang stres tinggi, dan tempat kerja yang kurang ramah karena harus saling bersaing.

Itu dia empat budaya kerja yang seringkali ditemukan di perusahaan Indonesia. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Supaya kamu tidak salah memilih perusahaan karena kultur kerja yang tidak cocok, kamu bisa melakukan riset terlebih dahulu. Bisa melalui situs resmi perusahaan, media sosial, atau bertanya pada karyawannya langsung. Selain itu, sembari melakukan riset tentang perusahaan impian, kamu juga bisa meningkatkan skill dan produktivitas dengan kegiatan bermanfaat.

Contohnya adalah kamu bisa belajar public speaking ala Kylatif atau menjadi content creator sukses seperti Levina Purnamadewi. Bagaimana caranya? Kamu bisa mendapatkan semua hal tersebut di DoCheck! Kamu bisa membuat jadwal kegiatan, belajar hal baru, dan yang terpenting produktivitasmu bisa meningkat dari sebelumnya. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, download sekarang DoCheck GRATIS di Play Store dan App Store!

Baca juga: Masa Transisi dari Kuliah ke Dunia Kerja, Harus Ngapain?


Scroll to Top