Mommy with his child

Kenali Mommy Burnout dan Cara untuk Menghindarinya


Menjadi seorang Ibu adalah tugas yang sangat berat. Banyak sekali tanggung jawab yang dipegang oleh seorang Ibu dalam berumah tangga. Seperti bekerja hingga mengasuh buah hati.

Adanya tuntutan dan tekanan saat menjadi seorang Ibu memperparah kondisi tersebut. Terlebih, di masa pandemi seperti sekarang. Seorang Ibu sering kali diharapkan untuk selalu mendedikasikan dirinya secara penuh untuk keluarga, hingga kadang ia lupa mengenai dirinya sendiri.

Platform riset pasar Populix, pernah melakukan survei pada pertengahan Oktober 2020 terhadap 1.230 Ibu pengguna aplikasi Teman Bumil di Indonesia. Hasilnya menunjukkan, selama pandemi Covid-19, Ibu rumah tangga rentan menjadi emosional dan stres karena harus mengurus sekolah anak yang dilakukan secara daring. Beberapa faktor yang menyebabkan ini terjadi antara lain, anak yang susah diatur (53%) dan Ibu yang masih harus bekerja (13%).

Kondisi seperti ini akan sangat memungkinkan untuk seorang Ibu mengalami mommy burnout. Iya, ternyata burnout itu gak selalu soal kerjaan, loh. Terus, apa sih mommy burnout itu?

Apa Itu Mommy Burnout?

Sheryl Ziegler, seorang terapis sekaligus penulis buku “Mommy Burnout”, mengartikan mommy burnout sebagai kelelahan emosional dan fisik yang dirasakan oleh seorang Ibu akibat dari stres mengasuh anak. Hal ini sebenarnya sangat normal terjadi. Namun, kondisi semacam ini jika dibiarkan terlalu lama akan berdampak negatif terhadap kesehatan mental Ibu.

Selain itu, Katayune Kaeni, seorang psikolog yang berfokus pada kesehatan mental Ibu dan keluarga, menyebutkan beberapa dampak dari mommy burnout. Di antaranya adalah merasa emosional, munculnya gangguan tidur, dan menjadi tempramental. Lebih jauh, tidak jarang hal ini membuat seorang Ibu menjadi kesal kepada anak atau pasangannya.

Sebelum mommy burnout sampai mengganggu kesehatan mental seorang Ibu. Kita punya beberapa cara nih yang dapat dilakukan agar terhindar dari ini. Catat, ya!

Agar Terhindar dari Mommy Burnout, Jangan Sungkan untuk Meminta Bantuan

meminta bantuan
unsplash/@markusspiske

Merasa tidak dibantu dalam menjalankan peran Ibu adalah salah satu penyebab mommy burnout. Mungkin, hal ini diakibatkan oleh sibuknya sang suami untuk bekerja. Padahal, Ibu selalu dapat meminta bantuan kepada siapapun, tak hanya sebatas suami.

Kadang orang mau mebantu, hanya tidak tahu bagaimana cara membantunya. Maka, jangan sungkan untuk meminta bantuan jika memang dirasa butuh. Agar beban menjadi seorang Ibu dapat berkurang.

Temukan Sesuatu yang Menyenangkan, Sekalipun Tidak Produktif

Kadang suka heran deh sama apa-apa harus produktif. Kesannya, mencari kesenangan itu dilarang banget. Padahal kan, biasanya hal-hal yang berbau produktif ini justru dapat menyebabkan stres dan kelelahan.

World Health Organization (WHO) pernah menulis sebuah artikel mengenai 6 cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental. Salah satu di antara enam cara tersebut adalah dengan melakukan hal-hal yang kita sukai. Mempunyai rutinitas yang deselingi dengan hal-hal yang menyenangkan, dinilai dapat menjaga kesehatan mental.

Jadi, it’s okay kok melakukan sesuatu hanya karena hal tersebut menyenangkan. Jika kamu seorang Ibu, mungkin kamu bisa jalan-jalan ke sebuah taman sambil membawa buah hatimu. Menghirup udara segar, melihat dedaunan yang hijau, hingga mencium bau tanah basah bisa menjadi terapi untuk stres yang mungkin sedang dirasakan.

Membagi Tanggung Jawab

Dalam kehidupan berumah tangga, semuanya soal peran. Seorang Ibu mempunyai perannya sendiri, begitupun juga Ayah. Namun kadang, adanya peran ini berdampak pada tidak adilnya pembagian tanggung jawab dalam hal pekerjaan rumah tangga.

Contohnya, sebuah survei yang pernah dilakukan oleh media The Conversation pada orang tua di 34 provinsi sepanjang April hingga Mei 2020 menunjukkan, sebanyak dua pertiga (66,7%) pendampingan anak di Indonesia masih dominan dilakukan oleh seorang Ibu. Hal ini akan menjadi masalah karena dalam sebuah studi lain yang dilakukan oleh University of Illinois, menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan Ayah dapat berdampak buruk pada pencapaian akademik anak.

Adanya ketimpangan tanggung jawab ini kemungkinan besar disebabkan oleh masih umumnya pandangan masyarakat mengenai pekerjaan rumah tangga identik dengan perempuan. Padahal, pekerjaan rumah tangga semacam mencuci pakaian, masak, membersihkan rumah, atau bahkan mendampingi anak, dapat juga melibatkan Ayah. Jadi, untuk para Ibu, jangan sungkan ya untuk membagi tanggung jawab ini!

Membuat Daftar

Terlalu banyaknya tanggung jawab yang dipegang seorang Ibu membuat semuanya kadang terlihat berlebihan. Membuat daftar saat sebelum tidur mengenai apa saja yang akan dilakukan di esok hari, dapat membantu Ibu terhindar dari perasaan semacam ini. Dengan lebih santainya pikiran, maka Ibu juga dapat terhindar dari rasa stres.

Baca Juga: To-do List: Membuat Daftar Kegiatan untuk Manajemen Waktu

Secara tidak langsung, kita menrencanakan sesuatu ketika membuat sebuah daftar. Perencanaan semacam ini, dalam dunia kesehatan, sudah digunakan sebagai salah satu cara untuk mengelola penyakit kronis, baik yang bersifat fisik maupun mental. Maka dari itu, hal ini juga bisa menjadi salah satu cara untuk menghindari mommy burnout.

Gimana sekarang? Udah pada lebih paham kan tentang mommy burnout? Ternyata benar ya jadi seorang Ibu itu tidak pernah mudah. Kalau kamu seorang Ibu dan lagi mengalami ini, agar merasa lebih baik, kamu bisa mulai sesuatu yang sederhana seperti membuat sebuah daftar mengenai apa saja yang akan dikerjakan.

Jangan lupa, bikin daftarnya pake aplikasi DoCheck, ya! Selain kamu bisa membuat to-do-list, kamu juga akan diberikan tips-tips menarik yang bisa bikin kamu makin produktif! Makanya, segera download aplikasi DoCheck di Google Play Store. Gratis!

Sekian mengenai mommy burnout dan cara untuk menghindarinya. Semoga, dengan mengetahui hal ini, kita jadi lebih dapat menghargai sosok Ibu. Terakhir, kamu jangan lupa buat ngucapin selamat hari Ibu, ya!


Scroll to Top