Overthinking people if front of computer

Overthinking: Apa dan Penyebabnya


Munculnya komunitas, kampanye, dan diskusi mengenai kesehatan mental menandakan kesadaran masyarakat Indonesia mengenai isu terkait terus meningkat. Semakin banyaknya informasi mengenai kesehatan mental, membuat kita sering mendengar istilah-istilah yang mungkin masih asing di telinga. Salah satunya adalah overthinking. Pernahkah kamu mendengar istilah ini?

Merujuk pada American Psychological Association Dictionary of Psychology, overthinking atau dalam istilah klinisnya, rumination, adalah pemikiran obsesif yang melibatkan pikiran berulang dan berlebihan mengenai sesuatu, hingga akhirnya mengganggu bentuk aktivitas mental lainnya. Lebih gampangnya, overthinking ini lebih dikenal dengan memikirkan sesuatu yang sudah atau bahkan belum terjadi secara berlebihan.

Sudah jelas bahwa overthinking memiliki efek negatif bagi tubuh kita. Menurut sebuah studi dalam Jurnal Personality and Individual Differences, ternyata, overthinking juga dapat menggaggu kualitas tidur kita, loh! Jika sudah sampai ditahap ini, overthinking tidak hanya berdampak buruk terhadap kesehatan mental, tetapi fisik juga.

Overthinking tidak akan menyelesaikan masalah kita. Inilah yang menjadi pembeda utama antara problem-solving dan overthinking. Jika kamu memikirkan suatu masalah yang mungkin akan terjadi di masa depan tanpa memikirkan cara untuk mengatasinya, sudah dapat dipastikan kamu hanya sedang overthinking.

Sepertinya, overthinking adalah sesuatu yang harus kita hindari, ya? Nah, biar kamu terhindar dari overthinking, kamu perlu tahu nih beberapa penyebab utamanya. Catat, ya!

Terus Menerus Memikirkan Masa Lalu

Memikirkan masa lalu memang perlu untuk mengingatkan sudah sejauh mana kita berkembang. Tetapi, jika terus menerus dilakukan, hal ini dapat berakibat fatal pada kemampuan kita untuk mengambil keputusan di masa depan. Ujungnya, kita akan menjadi seorang yang pesimis.

Jika ada di antara kamu yang gagal move on, kamu harus hati-hati! Kemungkinan besar kamu adalah orang yang sering overthinking. Ingat kata pepatah, “Yang lalu biarlah berlalu”. Jadi, sudah sepantasnya kita melupakan masa lalu, ya!

Rasa Khawatir yang Berlebihan

Gagal move on dengan khawatir ternyata mirip-mirip, loh. Bedanya, alih-alih memikirkan masa lalu, khawatir adalah kecenderungan kita untuk memikirkan hal-hal yang belum terjadi.

Seringkali kita terlalu memikirkan hal yang belum terjadi dengan dalih mempersiapkan diri dengan apa yang akan datang di masa depan. Hal ini baik, jika diikuti dengan memikirkan solusi dari masalah yang akan dihadapi. Tetapi, jika tidak, kamu akan terjerat overthinking yang hanya akan membebani mentalmu.

Terlalu Perfeksionis

Terlalu perfeksionis dinilai sebagai sifat khas dari seorang overthinker. Dalam penelitiannya yang berjudul Perfectionism as a Predictor of Post-event Rumination in a Socially Anxious Sample, Jaclyn R. Brown dan Nancy L. Kocovski, menemukan adanya keterkaitan antara sifat perfeksionis dengan perilaku rumination.

Menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan sempurna itu sah-sah saja, kok. Tapi, jangan sampai sikap perfeksionis ini membebanimu, ya. Kamu juga harus realistis dan menyadari bahwa kemungkinan untuk gagal itu selalu ada.

Membanding-bandingkan Diri dengan Orang Lain

Membandingkan diri dengan orang lain adalah sesuatu yang tidak relevan, karena dalam menilai sesuatu kita cenderung sangat subjektif. Kita hanya menilai dari apa yang telah dicapai oleh orang lain. Proses yang telah dilalui oleh orang tersebut sering banget kita lupakan karena memang kita biasanya tidak tahu apa yang sudah dilewatinya.

Menurut Gordon L. Flett dan Taryn Nepon, peneliti asal York University, serta Hewitt Paul, peneliti asal University of British Columbia, membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat kita ragu terhadap kemampuan diri sendiri. Lebih jauh, penelitian mereka mengungkapkan bahwa orang yang sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain memiliki tingkat kesehatan mental yang relatif rendah. Jadi, kalau kamu sering melakukan ini, kamu harus mulai menguranginya, ya!

Pikiran Kosong

Saat tidak melakukan apa-apa, pikiran kita juga ikut menganggur. Kekosongan ini akan membuat kita mencari suatu hal yang mungkin tidak akan kita lakukan untuk dipikirkan. Wajar jika kemudian pada malam hari kita sering overthinking, karena pada malam hari aktivitas kita tidak sesibuk saat siang.

Itulah beberapa penyebab dari overthinking. Ternyata, overthinking tidak hanya soal memikirkan sesuatu secara berulang dan terus menerus. Adanya faktor pendorong seperti perasaan khawatir, sikap perfeksionis, meningat masa lalu, hingga membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain dapat memicunya.

Overthinking juga dapat disebabkan karena pikiran yang kosong. Mencari kegiatan yang bermanfaat dapat menjadi solusi agar pikiran kita tetap sibuk dengan hal positif. Selain dapat menghindarkan kita dari pikiran menganggur yang dapat menyebabkan overthinking, kita juga dapat sekaligus mengembangkan diri. DoCheck juga bisa bantu kamu untuk mengembangkan diri, loh! Tunggu apalagi? Segera download aplikasi DoCheck di Google Play Store. Gratis!

Sekian mengenai overthinking dan beberapa penyebabnya dari DoCheck. Jika kamu ingin tau lebih jauh mengenai overthinking, kamu bisa join live discussion bareng Vanessa Adistiafany, Psikolog Klinis Dewasa Ruang Berproses. Live discussion akan diadakan di Instagram DoCheck pada Kamis, 16 November 2021 Pukul 19.15 WIB. Pantengin terus Instagram DoCheck, ya!


Scroll to Top