Menulis planning atau rencana dengan menggunakan tablet dan stylus pen

Planning Fallacy: Sebuah Kekeliruan dalam Berpikir


Kamu pasti pernah mendengar kata planning fallacy bukan? Apa itu planning fallacy? Kamu pernah bertanya-tanya gak, mengapa kita sering salah dalam memperkirakan selesainya sebuah tugas? Nah, fenomena ini dinamakan dengan planning fallacy.

Begini penjelasannya. Misal di hari Senin, seorang siswa di sebuah sekolah mendapatkan tugas esai, yang harus dikumpulkan Jumat. Sebelumnya, ia pernah mendapatkan beberapa tugas serupa.Tugas-tugas serupa sebelumnya, membutuhkan 3 hari untuk ia selesaikan. Ia menyimpulkan bahwa tugas yang ia dapatkan hari ini di sekolah bisa diselesaikan juga dalam 3 hari. Sampai hari Rabu, ia tidak mengerjakan tugasnya. Ternyata, perkiraannya meleset sehingga telat mengumpulkannya.

Apa itu Planning Fallacy?

planning fallacy
unsplash/@martenbjork

Mengutip The Decision Lab, istilah planning fallacy pertama kali dikenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky, dua orang figur yang cukup terkenal pada bidang ekonomi perilaku. Planning fallacy adalah kekeliruan berpikir yang membuat seseorang atau kelompok memiliki kecenderungan untuk meremehkan biaya, waktu, dan hambatan dari sebuah rencana.

Menurut mereka, ketika membuat prediksi tentang masa depan, orang cenderung mengandalkan sebagian besar pada penilaian intuitif yang tidak akurat. Kesalahan yang dibuat bersifat tidak acak, menunjukkan bahwa hal tersebut dihasilkan dari bias kognitif yang seragam. Nah, bias inilah yang kemudian menjadi penyebab planning fallacy.

Baca Juga: Plan, Do, Check, Act: Siklus Membantu Penyelesaian Masalah

Mengapa Planning Fallacy Bisa Terjadi?

Optimism bias, salah satu bias kognitif yang menjadi penyebab utama dari planning fallacy. Optimism bias adalah kecenderungan untuk memikirkan kemungkinan positif dan meremehkan kemungkinan seseorang mengalami peristiwa negatif. Wishful thinking juga bisa menjadi penyebab utama yang lain. Seseorang memiliki kecenderungan membayangkan untuk menyelesaikan sesuatu secepat dan seefisien mungkin.

Hal inilah yang kemudian membuat seseorang terlalu optimis dalam memprediksi sesuatu. Mengabaikan informasi-informasi yang berlawanan dengan pemikiran optimistik tadi. Termasuk hambatan-hambatan yang mungkin terjadi dalam mengerjakan proyek atau sesuatu tersebut.

Seperti kasus siswa tadi, ia optimis bahwa bisa mengerjakan tugas esai dalam 3 hari. Namun, ternyata selama ia mengerjakan, berbagai macam hambatan yang muncul, misalnya seperti terjadi pemadaman listrik, esai yang dikerjakan sekarang ternyata lebih sulit dari yang sebelumnya, dan lain sebagainya. Sehingga, ini menyebabkan rencana awalnya meleset dan berakhir telat mengumpulkan tugas.

Planning fallacy adalah sesuatu yang buruk, karena dapat memunculkan berbagai macam masalah. Salah satu planning fallacy yang paling terkenal adalah pembuatan Opera House di Australia. Bangunan ikonik tersebut awalnya direncanakan selesai dalam 4 tahun dan membutuhkan dana sekitar AUS $7 juta. Namun, pada akhirnya membutuhkan waktu 14 tahun dan dana sebesar AUS $102 juta untuk selesai.

Dalam kasus Opera House, masalah yang muncul karena planning fallacy adalah pendanaan. Tapi tenang, ada dua cara yang bisa kamu lakukan kok untuk menghindari hal ini. Yuk, simak cara-caranya!

Baca Juga: To-do List: Membuat Daftar Kegiatan untuk Manajemen Waktu

Mengacu pada Tugas atau Project Sebelumnya

project
unsplash/@markuswinkler

Profesor Grushka-Cockayne dari Darden School of Business, University of Virginia, mengatakan bahwa menjadikan tugas atau project serupa di masa lalu bisa membantu dalam mengatasi planning fallacy. Hal ini kamu jadikan sebagai data untuk merencanakan tugas atau project yang akan kamu kerjakan. Namun, ini adalah data internal, yang berasal dari diri kamu sendiri. Kamu perlu untuk mengambil persepsi lain guna mendapatkan data eksternal.

Pada kasus siswa telat mengumpulkan esai tadi, ia telah mengacu pada pengalaman masa lalu. Tapi, ia gagal untuk mengambil cara pandang lain. Hal ini membuatnya jadi tidak mempertimbangkan faktor atau gangguan eksternal yang akan muncul.

Ia seharusnya bisa mencari tahu dulu mengenai topik dari tugas esai yang diberikan. Jika sudah mencari tahu dan mempunyai gambaran seberapa susah topik tersebut untuk diangkat menjadi esai, maka perencanaan pun bisa lebih sempurna.

Murphy’s Law

murphys law
unsplash/@giamboscaro

If anything can go wrong, it will. Sesuatu yang bisa salah, maka akan salah. Hukum ini, dapat membantu kita untuk mengharapkan sesuatu yang tidak terduga.

Itu adalah inti dari hukum ini, yang dinamai berdasarkan seorang aerospace engineer Amerika Serikat bernama Edward Aloysius Murphy Jr. Pekerjaannya banyak melibatkan pengujian, desain, dan eksperimental. Wajar jika ia sering dihadapkan pada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana. Oleh karena itu, hukumnya berbicara mengenai sesuatu yang tidak terduga itu sangat bisa terjadi.

Semenjak pertama kali dicetuskan, hukum ini sudah banyak berkembang dan sekarang mencakup berbagai bidang berikut ini:

Project planning: Jika sesuatu bisa salah, maka kesalahan tersebut akan terjadi.

Performance management: Jika seseorang bisa salah, maka ia akan melakukannya.

Risk assessment: Jika beberapa hal bisa salah, maka hal yang paling tidak kamu harapkan tidak terjadi, maka akan terjadi.

Practical creativity: Jika kamu memikirkan tentang 4 kesalahan atau hambatan, maka 5 kesalahan atau hambatan akan muncul.

Murphy’s law akan membuat orang berpikir secara pesimis. Ini akan menyeimbangkan kecenderungan optimistik seseorang. Maka, kamu bisa menghindari planning fallacy dengan ini.

Nah, jadi intinya, planning fallacy itu disebabkan oleh kecenderungan cara berpikir seseorang yang optimistik. Sehingga pada akhirnya melupakan hal-hal negatif atau hambatan yang mungkin terjadi saat mengerjakan sesuatu. Murphy’s law dan mengacu pada tugas atau project sebelumnya bisa membantu kamu terhindar darinya.

Ngomong-ngomong soal planning atau perencanaan, kamu bisa banget loh bikin planning dengan aplikasi DoCheck! Kamu tinggal bikin goals di sana, dan membuat to-do list-nya untuk mewujudkan goals tersebut! Makanya, yuk segera download DoCheck sekarang di App Store dan Google Play Store. Gratis!

Sekian dari DoCheck mengenai planning fallacy. Semoga dengan mengetahui ini, kamu bisa lebih baik dalam merencanakan sesuatu. Dengan begitu, kejadian seperti telat mengumpulkan tugas tidak akan terjadi lagi, deh!

Baca Juga: Brain Dump, Teknik Menguraikan Pikiran ala Dumbledore


Scroll to Top