Orang di depan lapto merasa kelelahan

Toxic Productivity: Kenali Apa dan Cara Menghindarinya


Bisa memanfaatkan waktu dengan baik untuk menyelesaikan pekerjaan adalah hal yang baik. Tandanya, kamu adalah orang yang produktif. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, banyak orang ‘terjebak’ di dalam rumah ingin melakukan sesuatu yang lebih produktif.

Sebenarnya sah-sah saja jika ingin lebih produktif. Namun, kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, termasuk dalam hal produktivitas.

Apakah kamu yakin yang kamu lakukan itu produktif? Atau, jangan-jangan itu adalah toxic productivity? Nah, yuk mari kita cari tahu apa itu!

Apa Itu Toxic Productivity?

Dalam sebuah video yang diunggah BBC ke YouTube, psikolog Dr. Julie Smith mengatakan, toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk mengembangkan diri yang radikal. Sehingga hal tersebut membuatmu selalu merasa bersalah, tidak peduli seberapa produktif pun kamu. Toxic productivity ini hanyalah istilah yang lebih baru untuk menyebut workaholic.

Orang yang terjebak dalam toxic productivity akan selalu ingin produktif setiap saat, dengan segala cara. Tentu, untuk dapat menghindarinya, kamu perlu tahu terlebih dahulu ciri atau tanda bahwa kamu terjebak di dalamnya. Apakah ada ciri selain selalu merasa ingin produktif?

Ciri-ciri Toxic Productivity

Simone Milasas, seorang pelatih bisnis sekaligus penulis buku Joy of Business, menyebutkan tiga tanda atau ciri yang bisa kamu kenali dari toxic productivity.

Ciri utamanya adalah ketika kamu mulai terus-menerus mencoba untuk memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu penting hingga merasa bersalah ketika tidak mengerjakannya. Toxic productivity akan membuat kamu merasa gagal jika tidak mengerjakan tugas yang sebenarnya bukan tanggung jawab kamu.

Kemudian, ciri lain yang sangat bisa kamu kenali adalah perasaan lelah, bahkan ketika kamu mulai beraktivitas di pagi hari. Perlu untuk memperhatikan seberapa banyak energi yang kamu punyai di pagi hari. Apakah kamu bangun dengan mematikan alarm atau bangun secara alami? Bagaimana perasaan tubuhmu? Apakah normal? Kelelahan bukanlah suatu kewajaran menurut penulis buku “Joy of Business” tersebut, melainkan dapat menjadi sebuah tanda bahwa kamu terjebak dalam toxic productivity.

Terakhir, melakukan sesuatu yang tidak perlu dilakukan. Seperti, “Mengadakan Zoom untuk berbicara walaupun sebenernya lewat telepon atau email saja bisa”, Milasas mencontohkan.

Graheta Rara Purwasono, psikolog Riliv, mengatakan bahwa toxic productivity akan menyebabkan burnout yang menurutnya dapat berbahaya bagi kesehatan. Buktinya, pada 2019, WHO secara resmi menambahkan burnout ke dalam Internatial Classification Disease. Kondisi ini akan menyebabkan kamu merasa kehabisan energi dan kelelahan, memunculkan perasaan negatif atau sinis terhadap pekerjaan, serta akan mengurangi profesionalitas.

Tadinya ingin lebih produktif, kamu malah jadi tidak produktif sama sekali karena toxic productivity. Oleh karena itu, kita perlu untuk menghindarinya. Lalu, apa sih yang bisa kita lakukan untuk menghindarinya?

Berhenti Bertanya, “Apa yang Harus Aku Lakukan Setelah Ini?”

Selain berkata mengenai ciri toxic productivity, Milasas juga memberikan solusi untuk menghindarinya. Salah satunya dengan cara menghilangkan pertanyaan, “Apa yang harus aku lakukan setelah ini?”. Pertanyaan seperti ini harus dihindari karena bisa menjadi awal dari toxic productivity. Alih-alih menanyakan pertanyaan itu, kamu bisa menggantinya dengan pertanyaan, “Kira-kira, sekarang aku bisa melakukan sesuatu yang mudah apa, ya?” atau, “Apa yang diperlukan untuk mengerjakan sesuatu tersebut tanpa adanya stres?”

Atasanmu Tidak Peduli Berapa Lama Kamu Bekerja

Laurie Ruettiman, seorang konsultan sumber daya manusia, mengatakan bahwa terkadang toxic productivity itu bukan sesuatu yang datang dari lingkungan kerja, melainkan dari pikiran kita sendiri. Dengan kata lain, hanya sedikit atasan yang peduli bahwa kamu kerja terlalu keras. Penting untuk mengetahui hal ini bagi kamu yang sudah bekerja. Hal ini bisa membantumu untuk terhindar dari kerja yang berlebihan. Selain itu, kata penulis buku “Betting on You: How to Put Yourself First and (Finally) Take Control of Your Career” tersebut, atasan tidak mempedulikan perbedaan antara kerja 40 dan 50 jam. Mereka hanya menginginkan kamu kerja dengan baik dan benar.

Professional Detachment

Professional detachment, sebuah istilah yang Ruettiman tuliskan dalam bukunya, perlu untuk kamu praktikkan agar terhindar dari toxic poductivity. Secara sederhana, professional detachment adalah ketika kamu bisa berkomitmen dengan pekrejaanmu namun sekaligus juga menyadari bahwa hal tersebut bukanlah segalanya. Dengan begitu, kamu akan dapat memisahkan kehidupan personal dan profesionalmu.

Social Media Detachment

Terakhir, cara yang bisa kamu lakukan adalah dengan menghindari sosial media. Menurut seorang profesional trauma klinis, Kruti Quazi, menghindari sosial media dapat membuat kita lebih baik. Hal ini dikarenakan salah satu penyebab dari toxic productivity adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Misalnya, ketika scrolling Instagram, kamu bisa saja jadi membandingkan dirimu dengan orang lain. Sehingga, pertanyaan seperti, “Mengapa kita tidak melakukan sesuatu sebanyak orang lain?” pun muncul.

Wah, ternyata lumayan panjang ya bahasan tentang toxic productivity kali ini. Ternyata, hal tersebut bisa berujung pada burnout — sesuatu yang harus kamu hindari karena berbahaya bagi kesehatan. Berhenti bertanya mengenai apa yang harus kamu lakukan selanjutnya hingga menghindari sosial media bisa kamu lakukan agar terhindari dari toxic productivity. Menambahkan sesuatu yang bersifat self-care, seperti menonton film ke dalam to-do list mu juga bisa membantu membuatmu jauh lebih baik.

Nah, jangan lupa pakai aplikasi DoCheck ya bikin to-do list-nya! Sekarang, DoCheck sudah tersedia untuk iOS, loh! Yuk, segera download aplikasi DoCheck di App Store untuk pengguna iOS dan Google Play Store untuk Android! Gratis!

Sekian dari DoCheck mengenai toxic productivity. Semoga informasi ini bisa membantu kamu terhindar hal tersebut, ya!


Scroll to Top