toxic masculinity adalah

Mengenal Apa itu Toxic Masculinity dan Cara Pencegahannya


Toxic masculinity secara sederhana adalah anggapan dari luar terhadap laki-laki untuk berperilaku dengan cara tertentu. Laki-laki cenderung dituntut kuat, tidak boleh mengeluh dan tidak cengeng. Namun tahukah kamu? bahwa perilaku tersebut ternyata kurang baik dan termasuk pada toxic masculinity.

Ketika laki-laki di cap sebagai seseorang yang tidak jantan atau tidak sesuai dengan standar di masyarakat, mereka akan mengalami self esteem yang rendah dan kadang menarik diri dari lingkungan.

Sebagai manusia biasa, laki-laki juga ternyata diperbolehkan untuk merasakan emosi seperti rasa takut, sedih bahkan menangis. Apabila laki-laki tidak bisa mengekspresikan perasaannya karena takut dianggap payah dan lain sebagainya, justru hal itu akan berbahaya bagi dirinya.

Penjelasan dan Contoh Toxic Masculinity

 Ada banyak definisi toxic masculinity yang muncul dalam penelitian dan budaya pop. Beberapa peneliti sepakat bahwa toxic masculinity memiliki tiga komponen inti:

Ketangguhan : Ini adalah gagasan bahwa laki-laki harus kuat secara fisik, tidak berperasaan secara emosional, dan berperilaku agresif.

Antifeminitas: Ini melibatkan gagasan bahwa laki-laki harus menolak apa pun yang dianggap feminin, seperti menunjukkan emosi atau menerima bantuan.

Kekuasaan: Asumsi bahwa laki-laki harus berupaya memperoleh kekuasaan dan status (sosial dan finansial) sehingga mereka dapat memperoleh rasa hormat dari orang lain.

Kemudian, Terry Kupers memiliki pandangan bahwa, toxic masculinity merupakan sebuah sifat dalam sosial, yang mendorong adanya dominasi sifat maskulin, sifat merendahkan (terutama pada perempuan), dan tindak kekerasan asusila. Sebagai informasi, Terry Kupers merupakan psikiater, yang memiliki latar belakang psikoterapi psikoanalisis. Definisi toxic masculinity yang dipaparkan oleh Kupers tadi berasal dari jurnal yang ia tulis berjudul Gender and Domination in Prison.

Toxic masculinity dapat dijumpai pada relationship, sekolah, dan tempat kerja. Berikut beberapa contoh sehari-hari:

– Ketika anak laki-laki di sekolah tidak berperilaku maskulin, dan dia diintimidasi oleh anak laki-laki di kelasnya karena “terlalu feminin”

– Ketika seorang anak laki-laki menangis dan ayahnya menuruh untuk “tidak cengeng” atau laki-laki tidak boleh menangis”

– Atau seorang pria yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya tidak ingin menemui terapis karena dia harus “bersikap jantan”

Cara Mencegah Toxic Masculinity

Bukan hal baru bahwa anak laki-laki dituntut untuk menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Tangisan pada seorang lelaki seolah menjadi hal yang lemah dan tidak boleh dilakukan. Padahal, emosi haruslah diluapkan.

Arti maskulinitas yang keliru dapat memicu laki-laki untuk melakukan tindak KDRT, pelecehan seksual dan lain sebagainya. Laki-laki yang sudah terkena toxic masculinity akan kesulitan untuk keluar dari kebiasaan tersebut.

Agar tidak terjebak sebaiknya lakukan beberapa hal berikut :

1. Membiasakan untuk Mengungkapkan Apa yang Dirasakan

Belajar untuk mengetahui emosi apa yang sedang dirasakan lalu ekspresikan. Sedih dan menangis bagi laki-laki bukan hal yang fatal. Tetap beri ruang untuk laki-laki dan berikan pemahaman untuknya. Misalnya, beri laki-laki waktu untuk sendiri atau biarkan ia menangis di depan orang yang ia percaya.

2. Tanamkan Rasa Empati

Rasa empati tidak hadir begitu saja, namun perlu dilatih. Apabila empati telah muncul seseorang akan lebih mudah mengetahui apa yang ia rasakan bahkan bisa mengendalikan emosi tersebut. Hal tersebut akan mencegah dari toxic masculinity dan bisa merubah menjadi kepribadian yang lebih baik.

Ajarkan mereka tentang sopan santun sejak kecil. Beritahu mereka untuk peduli pada sesama baik itu laki-laki atau perempuan.

3. Jauhi Kalimat yang Merendahkan Perempuan

Jauhi nada yang ditunjukkan ke laki-laki seakan-akan merendahkan perempuan contohnya “Warna bajumu merah muda seperti perempuan” atau “Gayamu seperti perempuan” Perilaku tersebut akan membuat laki-laki mudah untuk merendahkan perempuan.

4. Memilih Hiburan di Media Sosial

Teknologi sudah semakin canggih bahkan sudah masuk ke kalangan anak-anak, untuk mencegah toxic masculinity perlu diterapkan sejak dini. Contohnya memantau tontonan yang dilihat oleh anak. Apabila tontonannya merujuk pada toxic masculinity, segera hindari secepatnya.

Ajarkan juga tontonan seperti apa yang boleh dicontoh dan tidak boleh dicontoh. Toxic masculinity tentu bukanlah sikap yang baik untuk dicontoh. Selain akan menjadi beban sosial bagi laki-laki, hal tersebut juga akan mengundang hal negatif, seperti kesulitan meluapkan emosinya dan mengancam kesehatan mental.

Baca Juga: Ciri-ciri Emotional Burnout

Penutup

Agar terhindar dari toxic masculinity kamu harus terlebih dahulu mengetahui ciri-cirinya dan cara mencegahnya.

Apabila kamu sudah merasa terjebak pada toxic masculinity dan kesulitan untuk menanganinya sendiri. Kamu bisa menghubungi profesional seperti psikolog, sebelum kesehatan mentalmu terganggu.

Yuk terus tingkatkan kesehatan mentalmu dan cek terus progresnya dengan cara download aplikasi DoCheck secara gratis di app store maupun di playstore. Kamu bisa menuliskan usaha apa saja yang sudah kamu lakukan dan mengetahui perkembanganmu sudah sejauh mana. Selamat mencoba!


Terbaru

Kategori

Scroll to Top