Orang merasa bersalah atau shame

Productivity Shame: Merasa Bersalah karena Tidak Produktif


Bila dibandingkan dengan media sosial lain, Twitter seolah mempunyai ciri khas tersendiri. Dari “please do your magic“-nya, budaya whistleblowing-nya, hingga fandom girl atau boy group Koreanya. Di sana, kamu juga bisa mendapatkan berbagai informasi menarik. Salah satunya adalah informasi mengenai produktivitas dan yang cukup menarik perhatian adalah thread tentang productivity shame.

Salah satu akun yang sering memberikan informasi tentang produktivitas adalah @elisabetguwarto. Beberapa hari lalu, ia membuat kompilasi yang berisi 7 thread terbaiknya. Productivity shame masuk dalam threadnya.

Kira-kira apa sih productivity shame ini? Kalau kamu coba terjemahkan dengan Google Translate ke dalam Bahasa Indonesia, artinya adalah “malu produktivitas”. Apakah berarti productivity shame itu adalah perasaan malu yang diakibatkan produktivitas? Yuk, ayo kita cari tahu!

Apa Itu Productivity Shame?

Kamu sudah melakukan banyak hal. Misalnya, mengerjakan tugas sekolah dan belajar. Namun, kamu masih merasa bahwa tidak cukup produktif.

Kamu lagi istirahat, kemudian berpikir kalau waktu istirahat ini sebenarnya bisa dipakai untuk lebih produktif. Kemudian rasa bersalah pun muncul karena pemikiran ini.

Kedua kondisi di atas adalah inti dari productivity shame. Pertama, productivity shame adalah perasaan tidak pernah cukup melakukan sesuatu. Tidak peduli seberapa banyak tugas yang sudah kamu selesaikan dan seberapa lama kamu bekerja, kamu akan selalu merasa bersalah walaupun telah membuat progres.

Kedua, productivity shame adalah perasaan tidak bisa melakukan hal-hal yang tidak produktif. Kamu akan merasa bersalah karena sudah membuang-buang waktu untuk istirahat atau melakukan hal-hal yang kamu sukai seperti menonton film, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Kamu akan merasa bersalah karena telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan atau seolah hal tersebut terlarang.

Apa Penyebab Productivity Shame?

Jocelyn K. Glei, penulis buku “Manage Your Day-to-Day”, menyebut productivity shame sebagai sebuah tindakan menetapkan ekspektasi tidak masuk akal terhadap apa yang kamu bisa capai, kemudian menyalahkan diri sendiri ketika kamu gagal memenuhinya. Dari sini, kita tahu bahwa salah satu penyebab dari productiviy shame adalah unrealistic goals. Lalu, apa saja sih penyebab lainnya?

Unrealistic Goals

Goals yang seharusnya bisa menjadi motivasi, malah akan menimbulkan perasaan bersalah jika kamu tidak realistis dalam menentukannya. Karena goals-nya terlalu besar, maka akan sangat mudah untuk kamu merasa bersalah jika tidak menghasilkan progres yang berarti.

“Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Namun, sering kali kamu hanya memperhatikan “Bersenang-senang kemudian”-nya saja, tanpa memperhatikan “Bersakit-sakit dahulu”-nya. Kamu cenderung berorientasi kepada hasil, bukan kepada proses.

Manusia cenderung optimistik dalam merencanakan sesuatu. Hal ini dinamakan optimistism bias. seseorang cenderung berpikir positif pada saat membuat rencana, tanpa memperhatikan sisi negatif yang bisa terjadi pada saat proses mewujudkan goals. Hal inilah yang kemudian membuat orang sering tidak masuk akal dalam menentukan goals.

Baca Juga: Goals Recommendation: Bisa Bantu Capai Life Goals!

Menilai Diri Berdasarkan Seberapa Banyak Kita Menyelesaikan Pekerjaan

Menghubungkan harga dirimu dengan banyaknya apa yang telah kamu capai juga menjadi salah satu penyebab utama dari productivity shame. Semakin banyak yang kamu lakukan atau produktif, maka semakin berharga kamu. Hal ini membuat self-esteem-mu bergantung pada produktivitasmu.

Hal ini berhubungan dengan penyebab yang pertama. Bayangkan jika kamu sudah menentukan goals yang tidak realistis. Pada saat tidak mencapai goals tersebut, maka akan semakin rendah self-esteem-mu. Lebih jauh, ini akan membuat dirimu selalu merasa bersalah.

Mempercayai Bahwa Orang Lain Melakukan Pekerjaan Lebih Banyak daripada Kamu

Social comparison, sebuah proses di mana seseorang membandingkan kemampuan, pendapat, atau sifatnya dengan orang lain. Leon Festinger, seorang psikolog sosial, berpendapat bahwa salah satu penyebab terjadinya hal tersebut adalah karena setiap orang memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi diri mereka sendiri dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain.

Maka, jika kamu berada di lingkungan yang di mana orang-orang di dalamnya terlihat telah mencapai lebih banyak hal dibanding dengan kamu, bukan hal yang mustahil kalau kamu kemudian membanding-bandingkan pencapaianmu dengan orang lain. Inilah yang kemudian bisa mengarah pada productivity shame. Kondisi ini diperparah dengan hadirnya media sosial karena ternyata, social comparison tidak hanya terjadi di kehidupan sosial, namun juga terjadi dalam konteks media sosial.

Tips Mencegah Productivity Shame

Karena kamu sudah mengetahui apa saja penyebab dari productivity shame, kamu jadi lebih mudah untuk mencegahnya. Lalu, apa saja sih cara yang bisa dilakukan agar terhindari dari hal tersebut?

Menentukan Goals yang Realistis

Yang pertama jelas, kamu harus realistis dalam menentukan goals. Hal ini akan mempermudah kamu dalam mencapai sebuah progres, yang kemudian bisa membuatmu merasa lebih produktif. Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan agar goals yang kamu tentukan menjadi realistis. Salah satunya adalah dengan menggunakan teknik WOOP goals setting.

Apresiasi Diri Sendiri

Sekecil apa pun progresnya, kamu harus tetap mengapresiasi diri kamu. Jika menurutmu kamu tidak seproduktif orang lain, bukan berarti kamu tidak berharga. Untuk menghindari ini, kamu harus mendefinisikan arti “cukup” menurutmu. Apakah dengan mengerjakan 2 tugas pada hari ini cukup? Atau justru 1 tugas saja sudah cukup?

Kamu selalu bisa mengerjakan sesuatu lebih banyak. Dengan mengetahui definisi “cukup” bagimu itu apa, kamu jadi tahu kapan harus berhenti. Sehingga, kamu tidak selalu ingin lebih produktif dan akan lebih mengapresiasi apa yang sudah kamu kerjakan.

Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Tadi kamu sudah tahu bahwa manusia itu suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Untuk menghindari hal ini, kamu harus tahu bahwa apa yang ditunjukkan oleh orang biasanya adalah sisi paling baik dari dirinya.

Fenomena ini erat kaitannya dengan publication bias. Sebenarnya, publication bias ini awalnya berbicara mengenai hasil sebuah penelitian. Lebih spesifiknya, hasil sebuah penelitian, akan memengaruhi apakah penelitian tersebut akan dipublikasikan atau tidak. Menurut sebuah studi, hasil penelitian yang positif (sesuai hipotesis) memiliki peluang 27% lebih besar untuk dipublikasikan dibandingkan dengan hasil penelitian yang sebaliknya.

Intinya, sesuatu yang positif akan memiliki peluang lebih besar untuk dipublikasikan. Hal ini juga terjadi pada konteks media sosial. Sebuah studi pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 51% pasangan remaja terlihat lebih bahagia di media sosial daripada di kehidupan nyata. Bahkan, 42% di antaranya menyatakan bahwa mereka sengaja menggunakan media sosial untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang sempurna.

Sesuatu yang kita lihat di media sosial belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Anggapan kita bahwa orang lain lebih produktif juga belum tentu sesuai dengan kenyataanya. Jangan sampai kamu kemudian merasa bersalah karena tidak mencapai sebanyak apa yang dicapai orang, karena pasti ada proses yang tidak ia publikasikan di media sosial untuk mencapainya.

Nah, itu dia productivity shame. Sekarang kamu tahu kan kalau produktivitas bisa menimbulkan rasa bersalah? Hal tersebut terjadi karena beberapa hal dari mulai membandingkan diri dengan orang lain hingga goals yang tidak realistis.

Eh, ngomong-ngomong soal goals, nih. Kamu bisa banget loh menentukan goals dengan aplikasi DoCheck! Gak hanya sampai situ, kamu juga bisa sekaligus bikin to-do list-nya. Dengan begitu, kamu bisa lebih mudah deh untuk memantau progres.

DoCheck juga sekarang sudah tersedia loh untuk pengguna iOS. Tunggu apa lagi? Yuk, segera download aplikasi DoCheck di App Store dan Google Play Store sekarang. Gratis!


Scroll to Top