Image with word "Resolution" and three origami with pink, green, and yellow color underneath it

WOOP: Sebuah Strategi untuk Mewujudkan Resolusi Kamu


Tinggal beberapa hari lagi menuju 2022. Ada sebuah tradisi yang biasa dilakukan di penghujung tahun seperti sekarang, yaitu membuat resolusi. Kita menentukan hal-hal apa saja yang ingin kita capai di tahun depan.

Hal-hal yang ingin dicapai setiap orang berbeda-beda. Misalnya dalam hal karir, kesehatan, hingga menghilangkan kebiasaan buruk, seperti merokok misalnya. Kalau kamu ingin mewujudkan sesuatu di tahun depan, salah satu hal yang bisa kamu lakukan untuk membantunya adalah planning.

Mungkin kamu pernah mendengar kata “planning” sebelumnya. Planning atau perencanaan, dalam Cambridge Dictionary diartikan sebagai tindakan memutuskan bagaimana melakukan sesuatu. Nah, kenapa kemudian kamu memerlukan planning untuk mewujudkan sesuatu?

Mengapa Kita Membutuhkan Planning?

Anggapan bahwa hanya diperlukan sebuah komitmen untuk mewujudkan sesuatu sebenarnya tidak 100% benar. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat gap yang sangat besar antara intensi (niat) dan perilaku. Misalkan, ingin mengehantikan kebiasaan buruk seperti merokok, kita mungkin sudah memiliki niat yang sangat besar untuk berhenti merokok, tetapi kita tidak benar-benar melakukan hal yang bisa membuat kita berhenti darinya.

Nah, di situlah sebuah planning dibutuhkan untuk mengisi gap tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan di Jerman dan Amerika menemukan bahwa, dalam mengejar tujuan, orang harus membuat rencana (plan) tentang cara bagaimana cara mewujudkannya. Salah satu teknik planning yang bisa mempermudah dan memotivasi kamu untuk mewujudkan sesuatu adalah WOOP.

Agak asing ya ditelinga? Tapi tenang, kita akan jelasin buat kamu! Simak baik-baik, ya!

Baca Juga: Fitur “Goals” DoCheck Bisa Bantu Wujudkan Resolusimu!

Apa Itu WOOP?

Mengutip laman web resminya, WOOP (Wish-Outcome-Obstacle-Plan) adalah strategi mental berbasis sains yang digunakan untuk membantu mewujudkan sebuah keinginan, menetapkan preferensi, dan mengubah kebiasaan. Strategi ini dikembangkan oleh seorang profesor psikologi bernama Gabriele Oettingen dan koleganya yang berasal dari New York University berdasarkan penelitian mengenai motivasi yang telah mereka lakukan selama kurang lebih 20 tahun.

WOOP atau dalam ranah saintifiknya dikenal sebagai Mental Contrasting with Implementation Intentions (MCII), telah terbukti sebagai sebuah strategi yang efektif untuk mewujudkan sebuah goals. Dari mulai yang bersifat kesehatan (mental maupun fisik), akademik, hingga kebiasaan.

Strategi ini memungkinkan kita untuk mengetahui hambatan apa yang membuat tujuan kita tidak tercapai. Dalam proses ini, kamu dituntut untuk bisa melakukan self-reflection dan mencari tahu situasi yang sedang dihadapi secara kritis. WOOP Terdiri dari 4 komponen yaitu, wish, outcome, obstacle, dan plan.

Wish

Ketika kamu mulai mengimplementsaikan WOOP, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah wish. Di tahap ini kamu perlu membayangkan atau memimpikan apa yang ingin kamu capai.

Di tahap ini kamu perlu mengingat bahwa resolusi kamu harus menantang agar termotivasi. Namun, kamu juga harus mempertimbangkan apakah hal tersebut realistis atau tidak untuk diwujudkan? Jangan sampai kamu menentukan suatu goals yang terlalu menantang hingga sulit untuk diwujudkan, ya!

Outcome

Kadang, kita cenderung melupakan apa yang akan terjadi jika kita berhasil dalam mewujudkan sesuatu. Luputnya hal ini, bisa mengurangi motivasi kita dalam berusaha untuk mewujudkan suatu resolusi. Nah, WOOP mengharuskan kamu untuk memikirkan ini, loh!

Dalam tahap outcome ini, kamu harus memikirkan apa yang bakal kamu dapatkan jika kamu berhasil mewujudkan sesuatu. Misal, jika kamu berhasil berhenti merokok, maka kamu bisa menghemat uang lebih banyak. Nah, jika kamu sudah mempunyai gambaran mengenai hal ini, kamu bisa lanjut ke langkah selanjtunya yaitu, obstacle.

Baca Juga: Goals List Membuatmu Mencapai Tujuan

Obstacle and Plan

Dari namanya saja sudah jelas kan apa yang harus kamu pikirkan di tahap atau langkah ini? Yap, betul! Kamu harus bertanya kepada diri sendiri apa yang menghalangimu dalam mewujudkan resolusi tersebut dan menentukan bagaiman cara mengatasinya. Pola if-then dapat mempermudah kamu dalam dua langkah ini.

Waduh, apalagi nih if-then? Jadi gini, sebuah penelitian bilang, untuk membuat rencana yang efektif, kita perlu menentukan kapan, di mana, dan bagaimana kamu ingin bertindak sesuai dengan tujuanmu. Nah, if-then ini sesimpel kamu menempatkan hambatan pada bagian if, kemudian cara untuk mengatasinya pada bagian then.

Nah, jadi, gimana nih tentang WOOP ini? Kamu masih bingung? Oke, kita bakal kasih contohnya deh supaya kamu bisa lebih paham. Yuk!

Contoh Menggunakan WOOP untuk Resolusi Diet

Wish: Berat badan turun dari 80kg menjadi 60kg.

Outcome: Aku dapat bergerak lebih bebas dan pakaian yang sudah tidak muat, dapat kupakai lagi.

Obstacle and Plan: Jika aku tidak kuat berolahraga (if, obsctacle), maka aku akan memilih olahraga yang ringan dan aku sukai (then, plan).

Kurang lebih seperti itu cara menerapkan WOOP. Tidak sulit, kan? Dengan WOOP kamu diminta untuk memimpikan sesuatu sekaligus membayangkan hambatan-hambatan apa saja yang dapat menghalanginya untuk terwujud. Hal ini akan membantumu untuk lebih mudah mewujudkan sebuah resolusi.

Tau gak apalagi yang bisa bantu kamu mewujudkan resolusi di tahun depan? Yap, bener, DoCheck! Dengan DoCheck kamu bisa membuat to-do-list apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkan resolusimu. Gak hanya sampai situ, DoCheck juga bakal kasih kamu tips-tips menarik yang akan memudahkanmu untuk mewukujudkannya! Yuk, segera download aplikasi DoCheck di Google Play Store. Gratis!

Baca Juga: Not-to-do List: Sebuah Daftar yang Bisa Bikin Fokus!

Sekian dari DoCheck mengenai WOOP. Semoga kamu bisa segera menerapkannya untuk resolusi tahun depan, ya!


Scroll to Top